BELA NEGARA DI ERA KONTEMPORER: ANTARA TANTANGAN DAN KESADARAN KEBANGSAAN
Oleh : Mei Shella Putri, S.T.
BAB I
PENDAHULUAN
Perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi, globalisasi, dan keterbukaan informasi membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Di satu sisi, perubahan ini memberikan banyak kemudahan, namun di sisi lain menghadirkan tantangan serius terhadap nilai-nilai kebangsaan. Wawasan kebangsaan dan semangat bela negara perlahan mengalami pergeseran makna, terutama di kalangan generasi muda.
Di tengah gempuran era digital dan ketidakpastian global, makna Bela Negara seringkali disalahartikan hanya sebagai angkat senjata atau latihan baris-berbaris. Padahal, bagi seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), bela negara adalah nafas sehari-hari dalam melayani publik dan menjaga keutuhan bangsa dari berbagai ancaman non-fisik.
BAB II
WAWASAN KEBANGSAAN DAN BELA NEGARA DI TENGAH PERUBAHAN ZAMAN
Konsep Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara
Wawasan kebangsaan adalah cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya yang berlandaskan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, serta NKRI. Sementara itu, bela negara merupakan sikap dan perilaku warga negara yang dilandasi kecintaan kepada tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, serta kerelaan berkorban demi kepentingan nasional.
Bela negara tidak selalu bermakna angkat senjata, tetapi juga mencakup kontribusi nyata dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan nonmiliter.
Analisis Kesiapsiagaan Bela Negara
Kesiapsiagaan bela negara tidak hanya diukur dari kekuatan militer, tetapi juga dari ketahanan ideologi, sosial, ekonomi, dan budaya. Masyarakat yang memiliki kesadaran bela negara akan lebih tangguh menghadapi krisis, menjaga persatuan, serta berperan aktif dalam pembangunan nasional.
Dalam konteks kontemporer, bela negara menuntut kecakapan literasi digital, sikap kritis terhadap informasi, serta komitmen menjaga nilai Pancasila di ruang nyata maupun ruang digital.
BAB III
PERMASALAHAN DAN TANTANGAN BELA NEGARA DI ERA KONTEMPORER
Salah satu permasalahan utama dalam penerapan wawasan kebangsaan adalah menurunnya rasa nasionalisme. Generasi muda cenderung lebih dekat dengan budaya global dibandingkan nilai-nilai lokal dan nasional. Hal ini diperparah dengan derasnya arus informasi yang tidak selalu disertai dengan kemampuan literasi digital yang memadai.
Tantangan lainnya datang dari ancaman nonmiliter seperti radikalisme, intoleransi, dan perang informasi. Media sosial sering dimanfaatkan untuk menyebarkan ujaran kebencian dan narasi yang memecah belah persatuan bangsa. Selain itu, ketimpangan sosial dan ekonomi juga berpotensi menimbulkan konflik horizontal yang melemahkan ketahanan nasional.
Situasi krisis seperti pandemi dan bencana alam turut menguji kesiapsiagaan bela negara. Kurangnya kepedulian sosial dan rendahnya disiplin masyarakat dapat memperburuk dampak krisis tersebut.
Permasalahan dalam Penerapan Nilai Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara
Beberapa permasalahan utama yang dihadapi dalam penerapan nilai-nilai tersebut antara lain:
- Menurunnya Nasionalisme Generasi Muda
Arus globalisasi dan budaya asing yang masuk tanpa filter menyebabkan sebagian generasi muda lebih mengagungkan budaya luar dibandingkan nilai-nilai lokal dan nasional.
- Penyalahgunaan Media Sosial
Media sosial kerap menjadi sarana penyebaran hoaks, ujaran kebencian, radikalisme, dan paham intoleran yang berpotensi memecah persatuan bangsa.
- Kurangnya Pemahaman Substansial
Pendidikan wawasan kebangsaan sering kali bersifat normatif dan teoritis, sehingga kurang menyentuh aspek implementatif dalam kehidupan nyata.
- Individualisme dan Apatisme Sosial
Meningkatnya sikap individualistis membuat kepedulian terhadap kepentingan bangsa dan negara semakin berkurang.
Isu Kontemporer: Ancaman yang Senyap namun Nyata
Saat ini, Indonesia menghadapi berbagai isu strategis kontemporer yang berpotensi mengganggu stabilitas negara (AGHT—Ancaman, Gangguan, Hambatan, dan Tantangan). Beberapa permasalahan utama yang menjadi sorotan antara lain:
- Korupsi dan Narkoba: Dua penyakit sosial yang merusak integritas bangsa dan masa depan generasi muda.
- Terorisme dan Radikalisme: Ancaman yang seringkali dipicu oleh faktor ideologi dan ketidakpuasan terhadap pembangunan.
- Pencucian Uang (Money Laundering) dan Proxy War: Bentuk peperangan modern di mana musuh tidak terlihat secara langsung namun merusak sendi-sendi ekonomi dan politik.
- Kejahatan Komunikasi Massa: Seperti penyebaran hoaks dan ujaran kebencian di dunia maya yang dapat memecah belah persatuan.
- Tantangan terbesarnya adalah rendahnya kepedulian dan kapasitas individu dalam mendeteksi serta menganalisis isu-isu tersebut sebelum menjadi konflik yang lebih besar.
Tantangan dalam Konteks Isu Kontemporer
Dalam konteks isu kontemporer, tantangan penerapan bela negara semakin kompleks, antara lain:
- Ancaman Nonmiliter, seperti perang informasi, cyber attack, krisis ideologi, dan disintegrasi sosial.
- Radikalisme dan Ekstremisme, yang menyasar kelompok muda melalui narasi agama atau ideologi tertentu.
- Ketimpangan Sosial dan Ekonomi, yang dapat memicu konflik horizontal dan menurunkan kepercayaan terhadap negara.
- Pandemi dan Bencana Alam, yang menuntut kesiapsiagaan nasional dan solidaritas warga negara.
Isu-isu tersebut menunjukkan bahwa bela negara harus dipahami secara kontekstual dan adaptif terhadap perubahan zaman.
BAB IV
UPAYA PENERAPAN DAN PENGUATAN NILAI BELA NEGARA
Menghadapi berbagai tantangan tersebut, diperlukan upaya kolektif untuk memperkuat nilai wawasan kebangsaan dan bela negara. Pendidikan menjadi kunci utama, tidak hanya melalui jalur formal, tetapi juga melalui keteladanan dan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pemanfaatan media digital secara positif juga menjadi langkah strategis. Media sosial dapat dijadikan ruang untuk menyebarkan konten edukatif, pesan persatuan, serta nilai toleransi. Selain itu, keterlibatan aktif generasi muda dalam kegiatan sosial, lingkungan, dan kewirausahaan merupakan wujud nyata bela negara yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Kesiapsiagaan bela negara juga perlu dibangun melalui sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat. Ketahanan ideologi, sosial, dan budaya harus berjalan seiring dengan pembangunan nasional.
Upaya Penerapan dan Penguatan Nilai Bela Negara
Untuk menjawab permasalahan dan tantangan tersebut, diperlukan berbagai upaya strategis, antara lain:
- Penguatan Pendidikan Karakter dan Kebangsaan
Pendidikan bela negara perlu dikemas secara kontekstual, aplikatif, dan relevan dengan kehidupan generasi muda.
2. Pemanfaatan Media Digital Secara Positif
Media sosial dapat menjadi sarana kampanye nilai kebangsaan, toleransi, dan persatuan bangsa.
3. Pemberdayaan Peran Generasi Muda
Keterlibatan aktif pemuda dalam kegiatan sosial, kewirausahaan, dan pengabdian masyarakat merupakan wujud nyata bela negara.
4. Peningkatan Kesiapsiagaan Nasional
Sinergi antara pemerintah, TNI, Polri, dan masyarakat sipil diperlukan untuk menghadapi ancaman militer maupun nonmiliter.
Upaya Nyata: Menuju Kesiapsiagaan Bela Negara
Sesuai dengan amanat konstitusi, setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban untuk ikut serta dalam pembelaan negara. Penerapannya dimulai dari Kesiapsiagaan Bela Negara, yaitu suatu kondisi fisik, mental, dan sosial yang prima untuk menghadapi berbagai situasi.
Berikut adalah langkah-langkah strategis dalam menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari:
- Penguatan Modal Insani: Kita harus mengasah modal intelektual, emosional, sosial, hingga kesehatan fisik sebagai wadah untuk mendukung pengabdian kepada negara.
- Kewaspadaan Dini: Meningkatkan kepekaan dan antisipasi terhadap setiap potensi ancaman, baik di lingkungan kerja maupun masyarakat.
- Aksi Nasional Bela Negara: Mewujudkan nilai-nilai cinta tanah air dan rela berkorban melalui tindakan nyata, seperti disiplin waktu, kerja keras, serta menjaga integritas dalam profesi masing-masing.
- Praktik Kedisiplinan: Melatih kepemimpinan dan kerja sama tim melalui kegiatan fisik dan mental untuk menghilangkan sikap negatif seperti malas atau apatis.
BAB V
PENUTUP
Bela negara di era kontemporer bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan kesadaran bersama sebagai warga negara. Tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut bentuk bela negara yang adaptif, kritis, dan inklusif.
Dengan memperkuat wawasan kebangsaan serta meningkatkan kesiapsiagaan bela negara, masyarakat Indonesia dapat menghadapi berbagai isu kontemporer tanpa kehilangan jati diri bangsa. Bela negara hari ini adalah tentang menjaga persatuan, berpikir bijak, dan berkontribusi nyata demi masa depan Indonesia.